Di Balik Tetesan ASI

INDAHNYA MENYUSUI DAN DISUSUI

Setiap bayi yang lahir di dunia membutuhkan perlindungan intensif dari orang-orang disekitar, perlindungan tersebut meliputi perlindungan eksternal dan perlindungan internal. Perlindungan eksternal adalah perlindungan dari luar tubuh bayi, misalnya perlindungan agar tidak digigit nyamuk dengan cara di tutup dengan kelambu sedangkan perlindungan internal adalah perlindungan yang berasal dari dalam diri bayi, misalnya sistem imun untuk membunuh bakteri penyebab diare. Perlindungan internal dapat terbentuk jika nutrisi bayi terpenuhi, namun tentunya bayi belum mendapatkan nutrisi dari makanan ataupun minuman yang dapat membantu melindungi dirinya dari patogen-patogen berbahaya. Tetapi nutrisi tersebut dapat di penuhi dengan cara pemberian ASI ( Air Susu Ibu ) yaitu cairan yang diproduksi oleh payudara seorang ibu setelah melahirkan dan ASI ini memiliki banyak manfaat. Sayangnya kebanyakan masyarakat di zaman modern ini kurang menyadari manfaat besar dari ASI, mereka berpikiran kurang luas dan kurang perhatian sehingga kurang mengerti tentang pentingnya asupan ASI pada bayi. Akibatnya sebagian besar ibu di indonesia maupun di negara lain memilih memberikan nutrisi bayi dengan susu formula atau susu sapi dengan berbagai macam alasan. Dalam kurun waktu terakhir ini penelitian terkait manfaat pemberian ASI pada bayi mulai berkembang dan semakin banyak, sehingga para ibu sudah mulai kembali memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya dengan memberikan ASI.
Selain kendala dari ibu, kadang bayi juga enggan atau menolak untuk diberikan asi. Hal itu bukan karena bayi tidak menyukai air susu ibu namun karena ada banyak kemungkinan diantaranya ketidaknyamanan posisi bayi saat menyusu, kemungkinan cara ibu memposisikan dan menggendong bayi yang mendorong kepala bayi ke payudara ibu sehingga bayi merasa tertekan dan menolak disusui, atau ada kemungkinan bahwa klavikula bayi patah sehingga sakit ketika dibaringkan yang terlihat sebagai penolakan payudara unilateral.  ( Riordan jan dan Auerbach kathleen G, 1996 )
Menurut setiawan (2013), ASI atau air susu ibu merupakan makanan terbaik untuk si bayi karena kandungan yang terdapat pada ASI sangat dibutuhkan dan berguna untuk kesehatan bayi. Kandungan ASI sangat lengkap dan sempurna meliputi kolostrum, protein, lemak, laktosa, laktobasilus, laktoferin, vitamin A, zat besi, taurin, lisozim, DHA dan AA, sel darah putih dan antibodi atau imunoglobulin utama seperti IgA,. IgM dan IgE Keseluruhan nutrisi atau zat gizi yang terkandung di dalamnya memiliki manfaat masing-masing yang dibutuhkan oleh bayi. Berikut adalah penjelasannya:
  •  Kolostrum merupakan cairan kekuningan yang keluar dari ASI pertama kali pada hari pertama sampai ke-empat, cairan ini bermanfaat untuk membersihkan pencernaan (usus) bayi  dari meconeum agar siap  menerima makanan  yang akan datang dengan baik. Kolostrum diproduksi sekitar 150-300 ml sehari yang mengandung zat anti penyakit, protein, mineral, secretory iga, imunoglobulin, lactoferin, lisozim dan lain-lain,
  • protein yang terkandung dalam ASI ibu adalah jenis protein casein dan whey, komposisi protein yang terkandung lebih banyak protein whey yang memiliki sifat mudah dicerna sehingga dapat diserap oleh tubuh bayi dengan baik,
  •   lemak juga dibutuhkan oleh tubuh bayi sebagai penghasil kalori utama,
  •   laktosa adalah karbohidrat yang berfungsi untuk penyerapan kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus,
  • laktobafilus sendiri berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan tubuh bayi seperti bakteri E.coli yang dapat menyebabkan diare,
  • laktoferin berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri stafilokokus, E. coli dan jamur kandida albicans yang dapat menyebabkan infeksi pada mukosa, mulut dan organ dalam lainnya,
  • vitamin A juga terkandung dalam ASI yang bermanfaat pada kesehatan mata si bayi,
  •  zat besi yang terkandung dalam ASI sebenarnya hanya sedikit namun mudah diserap sehingga tidak ada bayi yang menyusu ASI kekurangan zat besi (anemia),
  •  taurin merupakan asam amino yang berfungsi sebagai transmitter dan maturasi otak,
  •  lisozim adalah zat gizi yang berfungsi memecah dinding bakteri dan mengurangi insiden karies dentis dan maloklusi yaitu kebiasaan bayi mendorong lidahnya keluar akibat menyusu menggunakan botol susu atau dot.jumlah lisozim 300 kali lebih banyak dari pada susu sapi dan juga lebih tahan terhadap keasaman lambung,
  • Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah lemak yang berfungsi dalam pertumbuhan dan perkembangan otak sampai usia 1 tahun, sel darah putih berfungsi untuk membunuh kuman yang menyerang tubuh bayi,
  •  antibodi atau imunoglobulin utama banyak terkandung dalam kolostrum yang fungsinya melindungi tubuh bayi dari serangan bakteri atau mikroorganisme yang merugikan pada tubuh bayi. Selain imunooglobulin IgA, IgM, dan IgE juga ada imunoglobulin yang lain seperti IgG, IgD dan SigA. (setiawan, 2013)
Hubungan antara Imunoglobulin dengan vaksinasi opv (zat anti polio), pada minggu pertama ketiga jenis anti polio myelitik tipe 1,2 dan 3 sangat tinggi, kemudian semakin menurun pada bulan ketiga dan hilang pada bulan kelima. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sjawitri siregar dkk di RS Cipto Mangunkusumo menyatakan bahwa vaksinasi OPV yang diberikan pada bayi umur 3 bulan tidak perlu dihentikan karena kadar zat anti virus polio yang terkandung dalam asi sudah sangat rendah (polio tipe 1, 2 dan 3 masing-masing memiliki kadar 5%, 0% dan 1%), begitupun juga dengan pemberian ASI sebelum, sesaat dan sesudah pemberian vaksinasi terbilang aman karena asi tidak akan mempengaruhi pembentukan zat anti virus polio. ( suharyono, suradi R, firmansyah A, 1992 )
Keuntungan yang diperoleh dari pemberian ASI bukan hanya sekedar untuk diri bayi, namun juga banyak manfaat yang akan didapat oleh ibu bayi diantaranya : rasa kedekatan atau ikatan batin  antara ibu dan bayi semakin kuat, memberi kepuasan dan perlindungan ibu kepada bayinya karena ibu merasa memberikan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, sebagai KB alami karena dengan menyusui akan mencegah 15-25% kelahiran jika ibu menyusui bayinya selama 2 tahun, mengurangi pendarahan setelah melahirkan, rahim atau uterus akan lebih cepat pulih seperti sebelum hamil dan mengurangi timbulnya kanker payudara.  (Ii, 2004) dan juga memperindah bentuk tubuh ibu setelah melahirkan karena pada saat menyusui terjadi pembakaran kalori setidaknya 200 – 500 kalori dibakar per hari sehingga akan lebih cepat melangsingkan tubuh ibu seperti semula.
Manfaat ASI akan lebih optimal jika diberikan secara eksklusif, artinya pemberian ASI pada bayi dilakukan secara kontinu selama 6 bulan tanpa memberikan makanan atau minuman lainnya . Menurut Suradi, bayi yang mendapat asupan ASI cukup, jarang terkena diare karena asi mengandung zat yang melindungi saluran cerna seperti Lactobacillus bifidus, laktoferin, lisozim, SIgA, faktor alergi, serta limfosit T dan B. Zat- zat tersebut berfungsi sebagai daya tahan tubuh imunologik terhadap zat asing atau zat yang berbahaya yang masuk dalam tubuh. Penelitian oleh Lamberti et al  yang dilakukan di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa tingkat  risiko diare pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih tinggi dibanding yang mendapatkan ASI secara eksklusif yaitu 2,65  dan 1,26 .  (Rahmadhani, 2013)
Berdasarkan penelitian agus sartono pengetahun ibu tentang ASI, jenjang pendidikan ibu dan dukungan dari suami secara terpisah maupun bersamaan tidak berkaitan dengan praktek pemberian ASI secara eksklusif. Praktek pemberian ASI secara eksklusif lebih dipengaruhi oleh rasa keinginan dari diri ibu dan keberhasilan manajemen laktasi pada saat pertolongan persalinan di lembaga pelayanan kesehatan, yang sangat ditentukan oleh komitmen para tenaga pelayanan kesehatan (penolong persalinan) terhadap program peningkatan ASI Eksklusif. (Sartono, 2012)
Agar manfaat dari pemberian ASI dapat dirasakan oleh ibu dan bayi maka ada beberapa langkah menuju keberhasilan menyusui, diantaranya adalah sebagai berikut:
  •  lembaga kesehatan atau rumah sakit harus mempunyai peraturan tertulis tentang menyusui yang secara rutin disampaikan kepada semua tenaga pelayanan kesehatan agar dapat diketahui dan dilaksanakan.
  • Melatih semua tenaga pelayanan kesehatan dengan berbagai keterampilan yang di butuhkan untuk menerapkan dan melaksanakan kebijakan tertulis yang telah dibuat tersebut.
  • Mensosialisasikan kepada para ibu hamil tentang manfaat dan tatacara menyusui
  • Membantu para ibu untuk sesegera mungkin menyusui bayinya dalam waktu 30 menit setelah melahirkan
  •  Memberikan contoh kepada  para ibu bagaimana cara menyusui yang baik dan benar serta cara mempertahankan produksi ASI pada saat ibu dan bayinya harus terpisah
  •  bayi yang baru lahir tidak diberikan asupan makanan atau minuman apapun selain ASI  kecuali ada indikasi medis
  •  Melaksanakan rawat gabung yang berfungsi untuk memungkinkan atau mengizinakan ibu bersama anaknya selama sehari penuh
  •  Mendukung ibu agar dapat memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan dan keinginan bayinya
  • Tidak memberikan alat bantu menyusu misalnya dot atau kempeng pada bayi yang masih menyusu pada ibunya
  •  Membuat komunitas atau tim pendukung menyusui dan menyarankan para  ibu untuk berkonsultasi dengan tim tersebut.   ( suharyono, suradi R, firmansyah A, 1992 )
Karena begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pemberian ASI oleh bayi dan ibu, maka sangat dianjurkan untuk para ibu memberikan asupan ASI selama 2 tahun karena ASI mengandung zat gizi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan diri bayi, kandungan lengkap dan ideal yang terdapat pada ASI tidak terdapat pada susu sapi atau susu formula lain. Selain itu secara ekonomis harga ASI sangat murah bahkan gratis, ASI juga sangat aman, segar, sulit tercemar, bersih dan mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi, tidak dapat diencerkan ataupun dikentalkan sehingga susunan zat gizinya tidak berkurang atau berubah. Untuk mencapai kesuksesan program pemberian asupan ASI pada bayi diperlukan kesadaran dari ibu dan juga keluarga karena mereka memiliki peran masing-masing yang saling mempengaruhi. Dengan alasan apapun seorang bayi berhak untuk mendapatkan asupan ASI dari ibunya meskipun ibunya memiliki berbagai kendala, cara pemberian ASI pun dapat disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi masing-masing.



Daftar pustaka
1.     Jan riordan & Auerbach kathleen G. (1996). Buku saku menyusui & laktasi. Jakarta: EGC.
2.     Ii, B. A. (2004). Universitas sumatera utara.
3.   Rahmadhani, E. P. (2013). Artikel penelitian hubungan pemberian ASI eksklusif dengan angka kejadian diare akut pada bayi usia 0-1 tahun di puskesmas kuranji kota padang, 62-66.
4.     Sartono, A. (2012).Hubungan pengetahuan ibu , pendidikan ibu dan dukungan suami dengan praktek pemberian asi eksklusif di kelurahan muktiharjo kidul kecamatan telogosari Kota, 1-9.
5.     Setiawan, yahmin. (2013) . Kandungan asi yang sempurna . Diakses pada 18 November 2014, dari: http://www.lkc.or.id/2013/10/02/kandungan-asi-yang-sempurna/.
6.   Suharyono, suradi rulina, firmansyah agus. ( 1992 ). Air susu ibu tinjauan dari beberapa aspek ( edisi kedua ) . Jakarta : fakultas kedokteran UI

0 komentar:

Posting Komentar