Resume Jurnal

MANFAAT ALOE VERA UNTUK MENURUNKAN GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES TIPE 2

Metabolisme adalah sistem di dalam tubuh yang mengatur produksi energi di dalam sel, namun terkadang terjadi gangguan yang merusak dapat fungsi tersebut, sehingga produksi energi menjadi menurun. Salah satu gangguan metabolisme adalah Diabetes mellitus (DM) atau kencing manis, yaitu penyakit yang bersifat kronis dengan karakteristik hiperglikemi atau meningkatnya kadar gula dalam darah akibat ketidakmampuan hormon insulin menjalankan fungsinya secara memadai. Diabetes mellitus memiliki dua tipe, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Salah satu perbedaan antara keduanya terletak pada penyebabnya, jika diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh kerusakan pankreas sehingga produksi insulin berkurang, sementara tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin dalam arti insulinnya cukup tetapi tidak bekerja dengan baik dalam mengontrol kadar gula darah.
Negara Indonesia sendiri menempati urutan ke-empat dunia dengan jumlah penderita DM terbanyak, setiap tahun penderita diabetes semakin bertambah banyak dan World Health Ogranization (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2030 jumlah penderita akan meningkat mencapai 21,3 juta penderita (Aveonita, 2015). Banyak faktor yang dapat meyebabkan munculnya penyakit diabetes seperti keturunan, ditambah lagi gaya hidup dan keanekaragaman makanan saat ini yang mengandung gula berkadar tinggi dan lemak, menjadi penyebab semakin meningkatnya penderita DM di Dunia. (Dewi, 2011)
Fenomena ini membutuhkan pengontrolan dari semua pihak, agar penyakit diabetes tidak berkembang pesat di masyarakat, salah satunya dengan terapi gizi yaitu terapi yang memanfaatkan buah atau tanaman yang mampu menurunkan gula darah. Salah satu tanaman herbal yang memiliki khasiat untuk menurunkan gula darah yaitu lidah buaya (aloe vera), dimana menurut kajian pustaka lidah buaya (aloe vera) ini mengandung senyawa aloe emodin. Aloe Emodin tergolong senyawa antraquinone yang dapat mengaktivasi sinyal insulin dan mempercepat proses perubahan gula darah menjadi glikogen dengan menghambat glikogen sintase kinase-3 beta, sehingga kadar gula dalam darah dapat menurun (Dewi, 2011). Selain itu aloe vera juga memiliki kandungan kromium yang dapat merangsang pengeluaran insulin dari sel β pankreas. Hormon insulin merupakan hormon yang mengatur kadar gula dalam darah karena insulin sebagai pembuka/gerbang yang membuat gula darah dapat masuk kedalam sel. (Aveonita, 2015)
Tanda gejala yang muncul pada penderita diabetes diantaranya  lesu, kurang tenaga, selalu merasa haus, sering buang air kecil, penglihatan menjadi kabur, bahkan jika diabetes sudah sangat parah dapat terjadi ateroma sebagai penyebab awal penyakit jantung koroner. (Siyoto, 2013). Penderita merasakan hal tersebut karena kekurangan hormon insulin, yang mana sebenarnya hormon ini fungsinya mengangkut gula darah dari darah ke dalam sel untuk diproses menjadi sebuah energi, sehingga dengan kekurangan hormon ini maka tubuh tidak mampu memanfaatkan gula darah secara optimal dan membuat tubuh kekurangan energi. (Bansole, 2014)
Sebuah artikel review yang ditulis oleh Agatha Aveonita tahun 2015 menyebutkan beberapa penelitian sebelumnya telah banyak yang membuktikan bahwa sari lidah buaya dapat menurunkan kadar gula darah, baik yang telah diuji pada hewan maupun pada penderita DM. (Aveonita, 2015). Dalam artikel tersebut dipaparkan hasil penelitian secara objektif dan lengkap.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tri Sumarni dan Pramesti Dewi tahun 2011 menunjukkan bahwa 22 dari 25 responden pasien DM type II di Puskesmas Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes mengalami penurunan kadar gula darah. Gula darah responden menurun setelah diberikan jus aloe vera  dengan rata-rata penurunan kadar gula darah  sebesar 53,69 mg/dl (rata-rata awal 278,52 mg/dl – rata-rata akhir 224,56 mg/dl). Hasil penelitian ini diuji statistik dengan metode t-paired dan diperoleh nilai p = 0,0002, artinya terdapat pengaruh pada pemberian jus Aloe vera terhadap kadar gula darah pada pasien DM type II di Puskesmas Bumiayu. (Dewi, 2011)
Nurul dan Sandu juga melakukan penelitian yang sama di tahun 2013 pada penderita diabetes melitus tipe II di wilayah kerja puskesmas Karangan kabupaten Trenggalek. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 7 dari 10 atau 70 % responden yang menjadi kelompok perlakuan mengalami penurunan kadar gula darah dengan pemberian sari lidah buaya. Sedangkan ke-tiga responden lainnya mengalami kenaikan kadar gula darah, disebabkan karena responden memiliki faktor lain yang mempengaruhi kadar gula darahnya, yaitu tidak serasi antara makanan dan pengobatan atau responden memiliki penyakit lain seperti hipertensi, sehingga untuk memberikan efek penurunan pada gula darahnya dibutuhkan waktu pengobatan yang lebih lama dan pengontrolan yang lebih baik. Disisi lain hasil pada kelompok yang tidak diberikan perlakuan yaitu 9 dari 10 atau 90 % responden memiliki kadar gula darah acak naik. Hasil analisa datanya di uji statistik dengan metode Independent t-test, didapatkan bahwa nilai Sig (2-tailed) 0,001 lebih kecil dari taraf signifikan α 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Ho ditolak artinya pemberian sari lidah buaya memiliki pengaruh terhadap kadar gula darah.  (Siyoto, 2013)
Penelitian lain yang mendukung ialah penelitian Sabathino tentang perbedaan kadar gula darah puasa sebelum dan setelah pemberian lidah buaya (aloe vera) pada ibu-ibu di desa Tugu Mukti rt 03 rw 11 kecamatan Cisarua Bandung Barat yang diteliti pada tahun 2014. Sabathino memilih responden sebanyak 20 ibu-ibu di desa tersebut dengan kadar gula darah puasa > 110 mg/dl. Seorang dikatakan sebagai penderita diabetes jika nilai kadar gula darah puasanya > 126 mg/dl atau kadar gula darah sewaktunya >200 mg/dl. Data yang diperoleh dalam penelitian, rata-rata kadar gula darah responden sebelum pemberian aloe vera yaitu 134 mg/dl sedangkan rata-rata setelah pemberian menurun menjadi 104,55 mg/dl. Semua responden diberikan daging daun lidah buaya (aloe vera) sebanyak 250 mg sebelum sarapan selama tujuh hari. Hasilnya kadar gula darah ibu-ibu tugu mukti mengalami penurunan rata-rata 29,45 mg/dl. (Bansole, 2014)
Di Mesir, Akira dkk tahun 2007 juga telah membuktikan bahwa dengan pemberian molekul tinggi aloe vera (AHM) dapat menurunkan gula darah puasa responden sebesar 32 %, menurunkan trigliserida 35 %, menurunkan glikosiliasi Hemoglobin 20 %, tidak merubah tekanan darah, berat badan, koleserol maupun serum( ASL, ALT dan Kreatinin) secara signifikan. Hasil penelitian mereka menunjukkan 15 responden yang diberikan molekul tinggi sebanyak 0,05 g tiga kali sehari selama 12 minggu dari Oktober - Desember 2007 mengalami penurunan gula darah secara signifikan dan berkelanjutan setelah pemberian selama 6 minggu. (Akira Yagi, 2009)
Begitu pula di Korea terdapat penelitian yang dilakukan oleh Ho-Chun choi dkk terlihat bahwa lidah buaya memiliki khasiat untuk menurunkan gula darah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dengan pemberian 2 kapsul gel aloe vera setelah sarapan dan 2 kapsul setelah makan malam, selama 8 minggu kepada 8 responden yang mengalami kegemukan (obesitas) dan penderita diabetes awal, mereka mengalami penurunan berat badan (0,6 kg), penurunan massa lemak tubuh (Body Fat mass/BFM)  dan meningkatkan kerja insulin didalam tubuh.  (Ho-Chun Choi M.D., 2013)
Berdasarkan beberapa artikel jurnal diatas, telah terbukti secara valid dan global  bahwa  pemberian sari lidah buaya (Aloe vera) mampu memberikan manfaat yang besar terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes, manfaat tersebut akan didapatkan secara optimal dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang sesuai meliputi dosis, waktu dan kepatuhan gaya hidup sehat.






Daftar pustaka
Akira Yagi, S. H.-E. (2009). Possible hypoglycemic effect of Aloe vera L. high molecular weight fractions on type 2 diabetic patients. Saudi Pharmaceutical Journal, 209-215.
Aveonita, R. A. (2015). Effect Of Aloe Vera In Lowering Blood Glucose Levels On Diabetes Melitus. J Majority, 104-109.
Bansole, S. (2014). Perbedaan Kadar Gula Darah Puasa Sebelum Dan Setelah Pemberian Lidah Buaya (Aloe Vera) Pada Ibu-Ibu Di Desa Tugu Mukti Rt 03 Rw 11 Kecamatan Cisarua Bandung Barat.
Dewi, T. S. (2011). Pengaruh Pemberian Jus Aloe Vera Terhada Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Puskesmas Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes.
Ho-Chun Choi M.D., S.-J. K.-Y.-J. (2013). Metabolic effects of aloe vera gel complex in obese prediabetes and early non-treated diabetic patients: Randomized controlled trial. Nutrition journal, 1110-1114.
Siyoto, N. P. (2013). Pengaruh Pemberian Sari Lidah Buaya ( Aloe Vera) Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Acak Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Karangan Kabupaten Trenggalek.


KAJIAN AGAMA

“ UMAT ISLAM MASA KINI CERMIN UMAT ISLAM MASA DEPAN “
Narasumber: Bunda Darosy Endah dan Ilham Bersaudara

Dalam kehidupan , ada 3 fase yang akan dilewati oleh setiap manusia, yaitu:
1. Fase kelemahan, dimana dalam fase ini manusia baru merasakan kehidupan di dunia yaitu fase dilahirkan. Dalam fase ini manusia tidak dapat melakukan apapun dan masih membutuhkan bantuan dari sekitarnya, oleh karena itu manusia berada dalam masa kelemahan.
2.   Fase kekuatan, dimana dalam fase ini manusia berada dalam kondisi mampu menjalani kehidupan dengan kekuatan dirinya sendiri, fase ini dialami ketika manusia ada di masa remaja / dewasa. Dalam fase ini manusia dapat melakukan perubahan terhadap dirinya dan lingkungannya dengan kemampuan dirinya sendiri. Pada saat memasuki fase ini para remaja/ orang dewasa berada dalam masa penentuan, karena kemajuan atau kemunduran yang akan dialami oleh lingkungannya ditentukan olehnya.
3.  Fase kembali kepada fase kelemahan, dimana manusia menjalani kehidupannya dengan bergantung dengan bantuan oleh orang lain yang lebih kuat, fase tersebut terjadi ketika manusia berada dalam masa tua. Pada masa tua manusia tidak akan bisa kembali menjadi penentu kebijakan untuk lingkungannya karena kekuatan dalam dirinya sudah berkurang, ia hanya dapat mengkritisi dan mengikuti apa yang telah menjadi aturan untuknya.
Pada dasarnya hakekat kehidupan manusia di bumi sudah ditentukan oleh allah swt, dalam firmannya Q.S. Al- An’am ayat 32:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُخَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? “ ( QS. Al-an’am : 32)
Namun pada kenyataannya sekarang, manusia khususnya remaja menganggap bahwa dunia ini adalah sebuah tempat bermain, tempat untuk bersenang-senang tanpa memikirkan akhirat mereka. Hal ini sesuai dengan masalah remaja sekarang yang dikenal dengan 5F, berikut penjelasannya:
·       Fun ( bersenang-senang), jelas sekali terlihat di zaman modern ini remaja lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain-main mencari kesenangan sehingga lupa dengan hakekat kehidupannya yang sebenarnya.
·        Food ( makanan), sekarang ini pola makan remaja tidak begitu memperhatikan kehalalan dan keharaman makanan, mereka hanya mementingkan harga makanan yang mahal dan enak. Remaja lebih menyukai makanan eropa dari pada makanan timur tengah padahal di eropa sendiri mayoritas non muslim sehingga tidak ada jaminan tentang kehalalan makanan tersebut.
·        Fashion ( gaya busana ), remaja sekarang ini telah dilanda demam fashion dari barat, mereka cenderung memilih demikian karena menganggap gaya barat adalah trend masa kini tanpa memperhatikan aurat yang seharusnya ditutupi. Para remaja muslimah pun sekarang lebih banyak yang menggunakan pakaian yang kurang memenuhi aturat syar’i yakni menutup aurat. Misalnya celana jeans yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, jilbab kecil yang tidak menutupi dadanya dan pakaian tipis.
·       Facebook ( sosial media ), para remaja menganggap bahwa seorang yang tidak mempunyai sosial media seperti facebook, BBM, line atau whats App adalah kuno, kuper, tidak gaul dan sebagainya. Padahal sebenarnya penggunaan sosial media memiliki lebih banyak madarat daripada khasiatnya, contohnya penggunaan sosmed memiliki efek ketergantungan untuk selalu membuka sosmed tersebut sehingga lupa waktu belajar, makan, ngaji bahkan sholat.
·       Futsal , futsal menjadi salah satu masalah remaja dikalangan laki-laki karena demam bola yang melanda para muslim dapat menyebabkan efek buruk pada nilai ketaatan terhadap allah SWT, selain membuang waktu yang sia-sia futsal juga menjadi bahan perjudian, permusuhan dan perselisihan antar sesama.


Remaja pada saat ini tidak dapat dipisahkan dengan istilah PACARAN, namun sebagai muslim yang baik pacaran bukanlah hal yang buruk karena pacaran seorang muslim mengandung arti, PA= Pelajari Al-qur’an , CAR=Cintai Allah dan Rasul , AN= Amar ma’ruf Nahi mungkar.
Oleh karena keadaan umat islam saat ini yang dipandang kurang baik, mari mulai detik ini senantiasa kita tingkatkan kualitas diri (keimanan dan ketaqwaan) kita masing-masing agar kelak umat islam semakin baik dan berkembang lagi. Amin.

Di Balik Tetesan ASI

INDAHNYA MENYUSUI DAN DISUSUI

Setiap bayi yang lahir di dunia membutuhkan perlindungan intensif dari orang-orang disekitar, perlindungan tersebut meliputi perlindungan eksternal dan perlindungan internal. Perlindungan eksternal adalah perlindungan dari luar tubuh bayi, misalnya perlindungan agar tidak digigit nyamuk dengan cara di tutup dengan kelambu sedangkan perlindungan internal adalah perlindungan yang berasal dari dalam diri bayi, misalnya sistem imun untuk membunuh bakteri penyebab diare. Perlindungan internal dapat terbentuk jika nutrisi bayi terpenuhi, namun tentunya bayi belum mendapatkan nutrisi dari makanan ataupun minuman yang dapat membantu melindungi dirinya dari patogen-patogen berbahaya. Tetapi nutrisi tersebut dapat di penuhi dengan cara pemberian ASI ( Air Susu Ibu ) yaitu cairan yang diproduksi oleh payudara seorang ibu setelah melahirkan dan ASI ini memiliki banyak manfaat. Sayangnya kebanyakan masyarakat di zaman modern ini kurang menyadari manfaat besar dari ASI, mereka berpikiran kurang luas dan kurang perhatian sehingga kurang mengerti tentang pentingnya asupan ASI pada bayi. Akibatnya sebagian besar ibu di indonesia maupun di negara lain memilih memberikan nutrisi bayi dengan susu formula atau susu sapi dengan berbagai macam alasan. Dalam kurun waktu terakhir ini penelitian terkait manfaat pemberian ASI pada bayi mulai berkembang dan semakin banyak, sehingga para ibu sudah mulai kembali memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya dengan memberikan ASI.
Selain kendala dari ibu, kadang bayi juga enggan atau menolak untuk diberikan asi. Hal itu bukan karena bayi tidak menyukai air susu ibu namun karena ada banyak kemungkinan diantaranya ketidaknyamanan posisi bayi saat menyusu, kemungkinan cara ibu memposisikan dan menggendong bayi yang mendorong kepala bayi ke payudara ibu sehingga bayi merasa tertekan dan menolak disusui, atau ada kemungkinan bahwa klavikula bayi patah sehingga sakit ketika dibaringkan yang terlihat sebagai penolakan payudara unilateral.  ( Riordan jan dan Auerbach kathleen G, 1996 )
Menurut setiawan (2013), ASI atau air susu ibu merupakan makanan terbaik untuk si bayi karena kandungan yang terdapat pada ASI sangat dibutuhkan dan berguna untuk kesehatan bayi. Kandungan ASI sangat lengkap dan sempurna meliputi kolostrum, protein, lemak, laktosa, laktobasilus, laktoferin, vitamin A, zat besi, taurin, lisozim, DHA dan AA, sel darah putih dan antibodi atau imunoglobulin utama seperti IgA,. IgM dan IgE Keseluruhan nutrisi atau zat gizi yang terkandung di dalamnya memiliki manfaat masing-masing yang dibutuhkan oleh bayi. Berikut adalah penjelasannya:
  •  Kolostrum merupakan cairan kekuningan yang keluar dari ASI pertama kali pada hari pertama sampai ke-empat, cairan ini bermanfaat untuk membersihkan pencernaan (usus) bayi  dari meconeum agar siap  menerima makanan  yang akan datang dengan baik. Kolostrum diproduksi sekitar 150-300 ml sehari yang mengandung zat anti penyakit, protein, mineral, secretory iga, imunoglobulin, lactoferin, lisozim dan lain-lain,
  • protein yang terkandung dalam ASI ibu adalah jenis protein casein dan whey, komposisi protein yang terkandung lebih banyak protein whey yang memiliki sifat mudah dicerna sehingga dapat diserap oleh tubuh bayi dengan baik,
  •   lemak juga dibutuhkan oleh tubuh bayi sebagai penghasil kalori utama,
  •   laktosa adalah karbohidrat yang berfungsi untuk penyerapan kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus,
  • laktobafilus sendiri berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan tubuh bayi seperti bakteri E.coli yang dapat menyebabkan diare,
  • laktoferin berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri stafilokokus, E. coli dan jamur kandida albicans yang dapat menyebabkan infeksi pada mukosa, mulut dan organ dalam lainnya,
  • vitamin A juga terkandung dalam ASI yang bermanfaat pada kesehatan mata si bayi,
  •  zat besi yang terkandung dalam ASI sebenarnya hanya sedikit namun mudah diserap sehingga tidak ada bayi yang menyusu ASI kekurangan zat besi (anemia),
  •  taurin merupakan asam amino yang berfungsi sebagai transmitter dan maturasi otak,
  •  lisozim adalah zat gizi yang berfungsi memecah dinding bakteri dan mengurangi insiden karies dentis dan maloklusi yaitu kebiasaan bayi mendorong lidahnya keluar akibat menyusu menggunakan botol susu atau dot.jumlah lisozim 300 kali lebih banyak dari pada susu sapi dan juga lebih tahan terhadap keasaman lambung,
  • Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah lemak yang berfungsi dalam pertumbuhan dan perkembangan otak sampai usia 1 tahun, sel darah putih berfungsi untuk membunuh kuman yang menyerang tubuh bayi,
  •  antibodi atau imunoglobulin utama banyak terkandung dalam kolostrum yang fungsinya melindungi tubuh bayi dari serangan bakteri atau mikroorganisme yang merugikan pada tubuh bayi. Selain imunooglobulin IgA, IgM, dan IgE juga ada imunoglobulin yang lain seperti IgG, IgD dan SigA. (setiawan, 2013)
Hubungan antara Imunoglobulin dengan vaksinasi opv (zat anti polio), pada minggu pertama ketiga jenis anti polio myelitik tipe 1,2 dan 3 sangat tinggi, kemudian semakin menurun pada bulan ketiga dan hilang pada bulan kelima. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sjawitri siregar dkk di RS Cipto Mangunkusumo menyatakan bahwa vaksinasi OPV yang diberikan pada bayi umur 3 bulan tidak perlu dihentikan karena kadar zat anti virus polio yang terkandung dalam asi sudah sangat rendah (polio tipe 1, 2 dan 3 masing-masing memiliki kadar 5%, 0% dan 1%), begitupun juga dengan pemberian ASI sebelum, sesaat dan sesudah pemberian vaksinasi terbilang aman karena asi tidak akan mempengaruhi pembentukan zat anti virus polio. ( suharyono, suradi R, firmansyah A, 1992 )
Keuntungan yang diperoleh dari pemberian ASI bukan hanya sekedar untuk diri bayi, namun juga banyak manfaat yang akan didapat oleh ibu bayi diantaranya : rasa kedekatan atau ikatan batin  antara ibu dan bayi semakin kuat, memberi kepuasan dan perlindungan ibu kepada bayinya karena ibu merasa memberikan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, sebagai KB alami karena dengan menyusui akan mencegah 15-25% kelahiran jika ibu menyusui bayinya selama 2 tahun, mengurangi pendarahan setelah melahirkan, rahim atau uterus akan lebih cepat pulih seperti sebelum hamil dan mengurangi timbulnya kanker payudara.  (Ii, 2004) dan juga memperindah bentuk tubuh ibu setelah melahirkan karena pada saat menyusui terjadi pembakaran kalori setidaknya 200 – 500 kalori dibakar per hari sehingga akan lebih cepat melangsingkan tubuh ibu seperti semula.
Manfaat ASI akan lebih optimal jika diberikan secara eksklusif, artinya pemberian ASI pada bayi dilakukan secara kontinu selama 6 bulan tanpa memberikan makanan atau minuman lainnya . Menurut Suradi, bayi yang mendapat asupan ASI cukup, jarang terkena diare karena asi mengandung zat yang melindungi saluran cerna seperti Lactobacillus bifidus, laktoferin, lisozim, SIgA, faktor alergi, serta limfosit T dan B. Zat- zat tersebut berfungsi sebagai daya tahan tubuh imunologik terhadap zat asing atau zat yang berbahaya yang masuk dalam tubuh. Penelitian oleh Lamberti et al  yang dilakukan di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa tingkat  risiko diare pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih tinggi dibanding yang mendapatkan ASI secara eksklusif yaitu 2,65  dan 1,26 .  (Rahmadhani, 2013)
Berdasarkan penelitian agus sartono pengetahun ibu tentang ASI, jenjang pendidikan ibu dan dukungan dari suami secara terpisah maupun bersamaan tidak berkaitan dengan praktek pemberian ASI secara eksklusif. Praktek pemberian ASI secara eksklusif lebih dipengaruhi oleh rasa keinginan dari diri ibu dan keberhasilan manajemen laktasi pada saat pertolongan persalinan di lembaga pelayanan kesehatan, yang sangat ditentukan oleh komitmen para tenaga pelayanan kesehatan (penolong persalinan) terhadap program peningkatan ASI Eksklusif. (Sartono, 2012)
Agar manfaat dari pemberian ASI dapat dirasakan oleh ibu dan bayi maka ada beberapa langkah menuju keberhasilan menyusui, diantaranya adalah sebagai berikut:
  •  lembaga kesehatan atau rumah sakit harus mempunyai peraturan tertulis tentang menyusui yang secara rutin disampaikan kepada semua tenaga pelayanan kesehatan agar dapat diketahui dan dilaksanakan.
  • Melatih semua tenaga pelayanan kesehatan dengan berbagai keterampilan yang di butuhkan untuk menerapkan dan melaksanakan kebijakan tertulis yang telah dibuat tersebut.
  • Mensosialisasikan kepada para ibu hamil tentang manfaat dan tatacara menyusui
  • Membantu para ibu untuk sesegera mungkin menyusui bayinya dalam waktu 30 menit setelah melahirkan
  •  Memberikan contoh kepada  para ibu bagaimana cara menyusui yang baik dan benar serta cara mempertahankan produksi ASI pada saat ibu dan bayinya harus terpisah
  •  bayi yang baru lahir tidak diberikan asupan makanan atau minuman apapun selain ASI  kecuali ada indikasi medis
  •  Melaksanakan rawat gabung yang berfungsi untuk memungkinkan atau mengizinakan ibu bersama anaknya selama sehari penuh
  •  Mendukung ibu agar dapat memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan dan keinginan bayinya
  • Tidak memberikan alat bantu menyusu misalnya dot atau kempeng pada bayi yang masih menyusu pada ibunya
  •  Membuat komunitas atau tim pendukung menyusui dan menyarankan para  ibu untuk berkonsultasi dengan tim tersebut.   ( suharyono, suradi R, firmansyah A, 1992 )
Karena begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pemberian ASI oleh bayi dan ibu, maka sangat dianjurkan untuk para ibu memberikan asupan ASI selama 2 tahun karena ASI mengandung zat gizi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan diri bayi, kandungan lengkap dan ideal yang terdapat pada ASI tidak terdapat pada susu sapi atau susu formula lain. Selain itu secara ekonomis harga ASI sangat murah bahkan gratis, ASI juga sangat aman, segar, sulit tercemar, bersih dan mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi, tidak dapat diencerkan ataupun dikentalkan sehingga susunan zat gizinya tidak berkurang atau berubah. Untuk mencapai kesuksesan program pemberian asupan ASI pada bayi diperlukan kesadaran dari ibu dan juga keluarga karena mereka memiliki peran masing-masing yang saling mempengaruhi. Dengan alasan apapun seorang bayi berhak untuk mendapatkan asupan ASI dari ibunya meskipun ibunya memiliki berbagai kendala, cara pemberian ASI pun dapat disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi masing-masing.



Daftar pustaka
1.     Jan riordan & Auerbach kathleen G. (1996). Buku saku menyusui & laktasi. Jakarta: EGC.
2.     Ii, B. A. (2004). Universitas sumatera utara.
3.   Rahmadhani, E. P. (2013). Artikel penelitian hubungan pemberian ASI eksklusif dengan angka kejadian diare akut pada bayi usia 0-1 tahun di puskesmas kuranji kota padang, 62-66.
4.     Sartono, A. (2012).Hubungan pengetahuan ibu , pendidikan ibu dan dukungan suami dengan praktek pemberian asi eksklusif di kelurahan muktiharjo kidul kecamatan telogosari Kota, 1-9.
5.     Setiawan, yahmin. (2013) . Kandungan asi yang sempurna . Diakses pada 18 November 2014, dari: http://www.lkc.or.id/2013/10/02/kandungan-asi-yang-sempurna/.
6.   Suharyono, suradi rulina, firmansyah agus. ( 1992 ). Air susu ibu tinjauan dari beberapa aspek ( edisi kedua ) . Jakarta : fakultas kedokteran UI